Analisis Komunikasi Lintas Budaya - Studi Kasus Film Shortcomings, 2023 (Journal)
ABSTRACT
Akhmad Sugiarto, Intercultural Communication Analysis of Shortcomings Film Case Study, 2023
Communication is part of the relationship between living things. One branch of communication, namely intercultural communication, is considered important to help people learn new cultures or communicate their own culture to other groups or countries. The purpose of this research is to analyze the culture and behavior of an Asian (the main character in the film Shortcomings) in his daily life in a city in the United States. The human habit of moving from place to place, whether on vacation or staying for work, creates intercultural communication with different backgrounds. To understand the meaning of the words uttered by speakers in different backgrounds, you must first understand the culture and language used by the person you are speaking to. Furthermore, in the film Shortcomings, it can be seen how the differences in meaning between Asians and Americans in interpreting communication, which sometimes leads to conflict. The approach in this research uses conflict analysis, contact-interaction (mindfulness) and discussion of stereotypes. In the film "Shortcomings, 2023" there are several dialogues related to intercultural communication. Based on research conducted using qualitative descriptive methods, it was analyzed that intercultural communication often results in misunderstandings in interaction and conveying meaning pragmatically. Cultural background and characteristics greatly influence the meaning of language even in one language, namely English.
Keywords: Language, Cultural Differences, Communication, Pragmatics, Intercultural Communication
*****
ABSTRAK
Akhmad Sugiarto, Analisis Komunikasi Lintas
Budaya Studi Kasus Film Shortcomings, 2023
Komunikasi adalah bagian dari hubungan antar makhluk hidup. Salah satu cabang komunikasi yaitu komunikasi lintas budaya dinilai penting untuk membantu orang mempelajari budaya baru atau mengkomunikasikan budaya mereka sendiri kepada kelompok atau negara lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis budaya dan perilaku seorang Asia (tokoh utama dalam film Shortcomings) dalam kesehariannya tinggal di sebuah kota di Amerika Serikat. Kebiasaan manusia yang berpindah-pindah baik itu berlibur atau menetap urusan pekerjaan menciptakan terjadinya komunikasi lintas budaya dengan latar belakang yang berbeda. Untuk mengerti suatu makna dari ucapan yang diucapkan oleh pembicara dalam latar belakang yang berbeda tersebut, maka dari itu terlebih dahulu harus memahami budaya dan bahasa yang digunakan oleh lawan bicara. Lebih lanjut lagi, dalam film Shortcomings, terlihat bagaimana perbedaan makna antara orang Asia dan Amerika dalam penafsiran berkomunikasi, sehingga terkadang menimbulkan konflik. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan analisis konflik, jalinan kontak-interaksi (mindfulness) dan pembahasan stereotip. Di dalam film “Shortcomings, 2023” terdapat beberapa dialog terkait komunikasi lintas budaya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif ini, dianalisis bahwa sering kali komunikasi lintas budaya mengahasilkan kesalahpahaman dalam interaksi dan penyampaian makna secara pragmatik. Latar belakang budaya dan sifat sangat mempengaruhi pemaknaan bahasa walaupun di dalam satu bahasa yaitu bahasa Inggris.
Kata Kunci: Bahasa, Perbedaan Budaya,
Komunikasi, Pragmatik, Komunikasi Lintas Budaya
*****
PENDAHULUAN
Bahasa
adalah salah satu alat yang vital dalam melakukan percakapan sehari-hari untuk
menyampaikan informasi satu individu ke individu lain. Dalam menjalin suatu
hubungan interaksi dengan orang lain, manusia menggunakan bahasa sebagai alat
komunikasi. Menurut Chomsky, yang pernah dikutip oleh Kentjono, bahasa adalah
suatu sistem arbitrer yang digunakan oleh manusia untuk komunikasi.[1]
Dari percakapan yang dilakukan dalam proses
komunikasi, terlihatlah pandangan atau intrik tertentu dari ketertarikan satu
individu dengan yang lainnya dalam berkomunikasi. Salah satunya adalah dari
sisi kebudayaan yang merupakan ciri yang dapat membedakan suatu masyarakat
dengan masyarakat lainnya. Menurut Gründler & Köllner, budaya menentukan
individu komunikasi, etika kerja, dan pendekatan yang berbeda untuk
menyelesaikan masalah antar tim bangsa. Perbedaan kebudayaan satu sama lain
dapat diamati dari ritual, adat istiadat, dan simbol.[2]
Kebudayaan tidak hanya dikonstruksikan dalam satu makna, melainkan dijabarkan
dalam beberapa makna. Perbedaan budaya setiap negara menciptakan keunikan yang
dapat dibanggakan oleh negara tertentu. Tetapi bisa juga terjadi perbedaan
pandangan makna yang tersirat dalam proses pertukaran informasi, walaupun salah
satu baik komunikan maupun komunikator sama-sama ingin mendapatkan satu
perspektif yang searah.
Dilihat dari sisi studi kasus sebuah film yang
merupakan media
hiburan bagi penikmatnya, dalam kenyataannya film memiliki ragam fungsi. Antara
lain fungsi sosial. Bisa dilihat bahwa film tidak sekedar sebuah karya seni
yang lantas bersama-sama kita nikmati. Dalam proses pembuatan, film dibuat oleh
orang dengan angan-angan budaya tertentu. Angan-angan budaya ini berbeda dan
perlu dipelajari dengan cara membedakannya (membandingkan). Dalam dialog antara
dua ras atau seseorang yang terlahir dari lingkungan yang berbeda, bisa terjadi
perbedaan makna apa yang terucap dengan apa yang mungkin harusnya tersampaikan
atau dimaksud. Masalah ini tercipta dikarenakan
kesalahpahaman budaya ketika tokoh menafsirkan suatu tindakan atau ucapan.
Kultural perbedaan mempengaruhi perasaan orang, yang menyebabkan depresi dan kecemasan komunikasi karena mereka mungkin merasa asing dengan budaya baru. Patel, dkk., menyatakan bahwa budaya merupakan faktor penting dalam cara masyarakat berkomunikasi dan percaya pada komunikasi. Artinya, budaya mempengaruhi persepsi antara masyarakat dan komunikasi. Permasalahan yang sering dihadapi oleh populasi imigran yang perlu beradaptasi budaya baru yang dominan tempat mereka pindah. Terkadang, banyak orang yang punya penilaian sendiri tentang budaya lain karena penafsirannya. Dan bukan hanya budaya, termasuk sifat perilaku dan tindakan keseharian yang mungkin tidak kita sadari, biasanya tercipta dari pengaruh lingkungan dan budaya tempat kita dibesarkan.[3]
[1] Muhammad Fahri.
(2007). “The Reference Words in the Articles of the Jakarta Post,”: 1.
[2] Gründler, K., &
Köllner, S. (2020). Culture, diversity, and the welfare state. Journal of
Comparative Economics, 48(4), 913–932.
https://doi.org/10.1016/j.jce.2020.05.003.
[3] Patel, F., Li, M.,
& Sooknanan, P. (2011). Intercultural communication: Building a global
community. In Intercultural Communication: Building a Global Community (Issue
April). https://doi.org/10.4135/9781446270318
*****
PEMBAHASAN
A.
Analisis
Data
Sinopsis Film
Film
Shortcomings menceritakan tentang kisah seorang pegawai bioskop seni yaitu Ben
Tanaka (Justin H. Min) sedang bergulat dengan implikasi ras serta budaya di
dunia kencan. Ben Tanaka merupakan seorang pembuat film yang tengah berjuang
untuk mendapatkan keinginannya. Ia sedang tinggal di Berkeley, California
bersama dengan pacarnya Miko Hayashi (Ally Maki).
Miko
Hayashi merupakan seorang yang aktif dalam dunia seni dan politik. Ia memiliki
sikap antusias dan waktu dalam seni dan terutama bidang politik. Ben dan Miko
tengah bekerja untuk festival film lokal Asia - Amerika. Mereka mengelola
bioskop sebagai rumah seni dalam pekerjaan sehari - hari. Hingga pada suatu
ketika Ben tidak lagi melakukan pekerjaannya dalam mengelola bioskop. Ben
mempunyai seorang teman yang mana Ben sering melakukan banyak hal dengan wanita
tersebut seperti menonton dan makan di restoran bersama yang bernama Alice
(Sherry Cola).
Alice merupakan seorang mahasiswa pascasarjana yang sedang berteman dengan Ben. Ben menghabiskan banyak waktu dengan wanita tersebut ketika Miko pindah ke New York untuk magang. Ketika Miko meninggalkannya, Ben mulai melakukan apa yang ia inginkan, seperti menghabiskan waktunya di dunia luar sampai terobsesi dengan beberapa wanita diantaranya Autumn dan Sasha (wanita Amerika kulit putih), entah karena penasaran atau karena hatinya yang terluka karena dicampakkan oleh Miko.
Unit Analisis
Unit analisis pada penelitian ini adalah bagian-bagian
dari film, antara lain:
- Shot: Suatu rangkaian gambar hasil rekaman kamera tanpa interupsi. Satu shot terbentuk saat tombol rec pada kamera ditekan (yang menandakan mulai merekam gambar) hingga tombol rec ditekan lagi (menandakan gambar itu selesai direkam) atau bisa juga disebut satu take;
- Scene: Tempat atau setting dimana kejadian itu berlangsung. Dalam satu scene, bisa terdiri dari satu shot atau bahkan gabungan beberapa shot yang disusun sedemikian rupa, sesuai dengan jalan cerita;
- Sequence: Merupakan serangkaian dari scene atau shot-shot, yang mana adalah satu kesatuan utuh. Satu sequence bisa berlangsung pada satu setting atau di beberapa setting. Biasanya diawali dan diakhiri dengan transisi “fade”, “dissolve”, atau bisa juga dengan “cut”;
- Dialog: Kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa, untuk menjelaskan isi cerita, dan dapat menjadi patokan dalam pergantian adegan.
Pendekatan dan Sifat Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan pendekatan
kualitatif-deskriptif, pendekatan yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena
melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Pada penelitian ini objek
penelitiannya adalah film Shortcomings. Jadi, penulis akan mengungkap
fenomena-fenomena komunikasi antarbudaya pada film Shortcomings, diantaranya
dengan menggunakan analisa wacana dan analisa pragmatik dalam scene/dialog
film. Pendekatan kualitatif juga dapat membantu menggambarkan kasus, realita,
dan aspek-aspek dalam penelitian yang mungkin belum tentu dapat
direpresentasikan oleh angka-angka. Penulis menggunakan sifat deskriptif untuk
menjelaskan secara mendalam mengenai narasi komunikasi lintas budaya dan
fenomenanya yang terangkum dalam cuplikan film Shortcomings.
Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam riset kualitatif ada
bermacam-macam, antara lain focus group discussion, wawancara mendalam,
studi kasus dan observasi. Selain itu terdapat juga metode analisis isi
kualitatif, framing, semiotika maupun analisis wacana. Dalam penelitian
ini data yang diperoleh dengan cara melakukan studi analisis metodologi visual,
dengan menggunakan cuplikan lalu dilihat dengan menganalisis percakapan dan
dari sisi makna dan bahasa penyampaian pesan. Langkah umum metode visual film:
1.
Capturing atau mendokumentasi adegan/shot
pilihan;
2. Memfokuskan objek penelitian sesuai tema
berdasarkan representasi tekstual atau representasi visual shot tersebut;
3.
Menganalisis data dengan eksplorasi
unsur-unsur film seperti sequence, scene, shot, dialog, serta
melihat unsur-unsur narasi seperti alur cerita (plot), setting, karakter, dan
sudut pandang untuk mengungkapkan makna yang tersirat di dalam scene-scene
dan teks dalam film Shortcomings.
B.
Analisa
dalam Komunikasi Lintas Budaya
Analisa Wacana dan Cuplikan
Dalam
konsepsinya, film adalah sebagai media hiburan untuk penikmatnya. Seiring
berkembangnya zaman, film tidak hanya sebagai media penghibur, tetapi film juga
memiliki fungsi sosial. Dimana fungsi tersebut dapat mempengaruhi
pandangan-pandangan masyarakat terhadap kehidupan. Diantaranya film berfungsi
sebagai media yang informatif, persuasif, dan edukatif.
Penelitian
ini adalah tentang komunikasi lintas budaya yang diambil dari adegan film Shortcomings.
analisis dilakukan dengan menggunakan transkrip subtitle film. Secara
umum, analisis wacana adalah metode penelitian kualitatif yang berfungsi untuk
menganalisis bahasa, tulisan, pidato, percakapan, percakapan baik verbal dan
non-verbal. Dengan pendekatan analisis wacana, peneliti melihat dan
menganalisis apa yang ada di balik kata-kata dan kalimat (teks). Dengan
analisis wacana, peneliti dapat mengetahui bagaimana dan mengapa pesan dalam
teks yang disajikan.
Komunikasi lintas budaya terjadi di mana orang yang berkomunikasi adalah orang yang berbeda budaya, dua budaya atau lebih. Di film ini jelas terjalin komunikasi lintas budaya. Di mana terdapat scene yang memperlihatkan perbedaaan makna tersirat yang mengakibatkan kesalahpahaman makna antar dua orang dengan kultur dan budaya berbeda saat berkomunikasi. Percakapan dialog antara Ben (orang Asia) dengan Autumn (orang Amerika) ter-capture dalam cuplikan berikut:
Data
1:
Ben :
Dengar, aku hanya mau minta maaf soal semalam.
Autumn : Tak
apa-apa.
Ben :
Tidak, kurasa aku salah paham dan aku...
Autumn : Kau
tak salah. Ahu hanya.... Saat itu, rasanya tidak benar.
Ben :
Ya, itu masuk akal. Aku hanya....
Autumn : Kadang kupikir tubuh lebih tahu daripada pikiran.
Jika menyangkut
ketertarikan
seksual.
Dari percakapan diatas, sebelumnya ada kesalahpahaman makna dalam interaksi komunikasi antara Ben dan Autumn, dimana Ben berusaha menyatakan cintanya kepada Autumn dengan gaya kebiasaan dia sebagai orang Jepang, yang mana melibatkan perasaan lebih kuat dan utama. Berbeda dengan kultur di Amerika, dimana orang-orang Amerika (termasuk Autumn) cenderung untuk have fun, dan bagi mereka peraasan dan ketertarikan mendalam tidak bisa terjadi secara cepat, perlu proses panjang dan mendetail terkait hal tersebut. Kecuali untuk masalah bercinta dan sebagainya atau hanya sekedar bermain-main, mereka akan canggung jika langsung dihadapkan dengan hubungan yang serius. Dalam dialog di atas Ben meminta maaf, dan Autumn pun memakluminya. Tetapi pada scene berikutnya, hubungan mereka menjadi semakin renggang dan terjadi kegagalan komunikasi karena hilangnya rasa saling percaya antara mereka berdua.
Data
2:
Ben : Pria
di sana. Kau lihat? Dia terang-terangan menghakimiku.
Sasha : Menghakimimu?
Untuk apa?
Ben : Kau
tahu, kita.
Sasha : Ayolah.
Ini bukan 1949.
Ben : Entah
itu atau dia merasa “iri gadis kulit putih”.
Mungkin lebih seperti, “Kerja bagus”. Aku
bercanda.
Siapa yang tahu alasannya menatap kita?
Sasha : Itukah aku? “Gadis kulit putih?”
Ben : Bukan hanya itu.
Dengar, maafkan aku. Aku hanya...
Sasha : Hanya apa?
Ben : Kau sangat cantik. Aku hanya
berasumsi setiap pria yang kita
lewati membenciku.
Sasha : Oke. Itu menyedihkan Ben.
Ben : Ya. Baik.
Dari percakapan di atas, terdapat konflik antara Ben dan Sasha dalam sebuah scene di toko bunga saat mereka sedang berkencan. Setelah menyerah dengan Autumn, Ben mendekati Sasha yang dia kenal dari acara pesta kampusnya Alice. Ben yang orang Asia menganggap orang-orang di sekitar men-judge dia yang sedang berkencan dengan Sasha (orang Amerika) dan merasa terintimidasi. Ben mencoba mengkomunikasikan keresahannya ke Sasha, dan Sasha menganggap Ben terlalu berlebihan, bahkan terjadi kesalahpahaman dari sisi Sasha yang berasumsi bahwa Ben hanya melihat dia sebagai “Gadis Kulit Putih”. Permasalahan ras dan kultur ini melibatkan komunikasi lintas budaya yang memang susah untuk diaplikasikan dalam keseharian. Terutama Ben yang pendatang harus banyak belajar dan memahami sekitar saat tinggal di Berkeley, California - Amerika Serikat (di dalam film). Di akhir scene, Ben mengucapkan permintaan maaf ke Sasha bahwa ada kesalahpahaman dalam kata yang diucapkannya. Tetapi kata-kata “gadis kulit putih” tetap membekas di benak Sasha setelah itu, sampai hubungan mereka renggang di pertengahan film.
Terdapat juga siratan stereotip dalam scene di
atas, stereotip yang merupakan penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan
persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan,
stereotip juga merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif
oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam
pengambilan keputusan secara cepat.[1]
Terlihat saat Ben menyebut Sasha “gadis kulit putih” dan Sasha yang berpikiran
sempitnya pandangan Ben terhadap hal tersebut.
Analisa Pragmatik
Pragmatik adalah salah satu cabang ilmu bahasa yang
mempelajari tentang makna bahasa sama halnya dengan semantik. Perbedaannya,
semantik mempelajari makna bahasa yang bebas konteks sedangkan pragmatik
mempelajari makna bahasa yang terikat konteks.[2]
Dalam pragmatik dijabarkan mengenai aturan-aturan yang
harus dipatuhi oleh para penutur agar apa yang dituturkan dapat diterima secara
efektif oleh lawan bicaranya. Aturan-aturan tersebut disebut dengan prinsip
kerja sama atau maksim kerja sama, namun pelanggaran terhadap prinsip kerja
sama justru dapat menimbulkan humor. Selain prinsip kerja sama, terdapat pula
prinsip kesopanan yang harus dipatuhi oleh para penutur.
Banyak hal yang dapat dikorelasikan dalam film Shortcomings
perihal materi komunikasi lintas budaya. Melalui film ini, memvisualisasikan
sebuah gambaran mengenai perbedaan sudut pandang komunikasi dalam kegiatan
keseharian antara kultur Asia dan kultur Amerika. Dalam film Shortcomings, digambarkan
pula gaya komunikasi yang berbeda antara orang Asia dengan orang Amerika karena
adanya perbedaan budaya. Orang Amerika cenderung lebih mengeluarkan ekspresinya
atau mengungkapkan pikirannya secara langsung. Mereka lebih aktif dalam
berkomunikasi. Sebaliknya orang Asia lebih pendiam dan cenderung
pasif dalam hal berkomunikasi bahkan terkadang saat mereka mengucapkan sesuatu
yang biasanya tersirat, malah menimbulkan kesalahpahaman saat percakapan
berlangsung antara dua orang dari budaya yang berbeda. dalam film ini juga
menggambarkan bahwa antar lintas negara bisa saja menjalin hubungan yang baik
khususnya dalam hal komunikasi walaupun terkadang harus disamakan terlebih
dahulu sudut pandang dalam perspektif percakapannya sehingga tercipta obrolan
yang selaras dan searah.
Dalam adegan lain, Sasha menumpahkan pendapatnya
terhadap gaya komunikasi orang Asia (yaitu Ben) yang menyebabkan sering
terjadinya miss communication di antara mereka berdua. Itu terjadi saat
berakhirnya hubungan Ben dan Sasha dalam satu kejadian.
“Dengar Ben, aku tahu kau mau menyalahkan ini pada masyarakat atau seksualitasku, rasmu atau apa pun. Namun, kelak kuharap kau akan mengerti ini hanya tentang kau”. Kalimat di atas menjelaskan bahwa Sasha bingung dengan sikap Ben dan bagaimana menghadapinya. Kesalahpahaman itu tercipta dikarenakan dua tipe komunikasi yang berbeda antara Ben dan Sasha yang mana merupakan dua orang dengan latar belakang, ras dan budaya yang berbeda. Jadi terlihat di film ini, budaya mempengaruhi cara berkomunikasi antar sesamanya.
Tantangan,
Hambatan dan Solusi
Tantangan utama komunikasi lintas budaya di era
globalisasi adalah perbedaan dalam persepsi, nilai, dan norma budaya.
Selain itu, bahasa juga menjadi faktor penting dalam komunikasi lintas budaya,
dimana perbedaan bahasa dapat menghalangi pemahaman dan kolaborasi antar
budaya. Seperti dalam film Shortcomings, dimana perbedaan persepsi dan
nilai menjadi tolak ukur konflik yang terjadi antara para tokoh di dalam film
tersebut. Dialog-dialog yang mempertemukan antara dua orang dari dua kultur
budaya yang berbeda tersirat adegan ekspresi yang memperlihatkan perbedaan
pandangan maupun kesalahpahaman makna dalam proses komunikasi atau percakapan
dalam scene film tersebut.
Selain tantangan, hambatan komunikasi di dalam film
ini juga menjadi penting terlihat karena sebab-sebab perbedaan budaya dan ras
dalam interaksi satu sama lain. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi
hambatan dalam komunikasi lintas budaya, yaitu:
1.
Hambatan yang Disebabkan Semantik
Dilansir
dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, semantik merupakan ilmu
tentang makna kata dan kalimat. Hambatan yang disebabkan karena semantik
merujuk pada kata-kata yang sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Seperti
kata “jangan” yang menyatakan larangan dalam bahasa Indonesia, tetapi bisa merupakan
nama sebuah makanan dalam bahasa Jawa.
2.
Hambatan yang Disebabkan Konotasi Kata
Konotasi
dapat diartikan sebagai makna tambatan atau tersembunyi yang melekat pada
sebuah kata. Kata “anjing” dalam budaya Eropa, misalnya, mutlak merujuk
pada hewan. Namun, dalam beberapa budaya Asia, konotasi kata
tersebut bisa bersifat negatif yang mengandung makna
penghinaan.
3.
Hambatan yang Disebabkan Perbedaan Nada Bicara
Kondisi
ini merujuk pada perbedaan penggunaan intonasi, volume, kecepatan, dan gaya
bicara antar budaya, yang dapat menyebabkan kesalah-pahaman. Contohnya,
kebiasaan orang Batak berbicara dengan tegas, dapat menimbulkan salah
penafsiran dari orang Jawa yang cenderung berbicara dengan intonasi lembut.
4.
Hambatan yang Disebabkan Perbedaan Persepsi
Orang
yang berbicara menggunakan bahasa berbeda, memandang
dunia dengan cara yang tidak sama. Itu disebabkan perbedaan
latar belakang budaya, pengalaman hidup, nilai-nilai, keyakinan, dan
sebagainya. Akibatnya, satu hal yang lumrah di suatu daerah atau budaya,
bisa dianggap tidak wajar di tempat lainnya. Sebagai contoh, konsep childfree yang
diterima negara Barat, kerap menimbulkan kontroversi di Indonesia.
Diantara keempat jenis hambatan di atas, dalam film Shortcomings,
hambatan yang terlihat dan menjadi penghubung benang merah dalam film tersebut
adalah hambatan yang disebabkan perbedaan nada bicara dan hambatan yang
disebabkan perbedaan persepsi. Bisa dilihat dari contoh kasus dialog pada
analisis wacana dan pragmatik di atas, perbedaan nada bicara saat scene
Ben dan Sasha bersiteru merupakan contoh penafsiran bahwa cara pandang orang
Asia dan Amerika dalam mengekspresikan kemarahan atau kekecewaan cenderung
berbeda. Ben (Asia) cenderung memiliki pola bahasa sindiran dengan tetap
mempertahankan emosi tidak sampai meluap-luap kepada lawan interaksinya.
Sedangkan Sasha (Amerika) lebih mengedepankan transparansi bagaimana akar dari
permasalahan tersebut dan solusi penyelesaiannya, dengan cenderung to the
point mengutarakan apa yang ada di pikiran secara verbal dan jelas.
Hambatan lainnya adalah disebabkan oleh perbedaan
persepsi. Bahasa yang digunakan di dalam film memang sama, karena latar setting
tempatnya adalah Amerika, semua tokoh dalam film pun diceritakan memakai
satu bahasa yaitu bahasa Inggris. Tetapi perbedaan persepsi tercipta karena
perbedaan latar belakang budaya, pengalaman hidup, nilai-nilai dan keyakinan.
Dalam film diketahui Autumn adalah seorang seniman dan dia mempunyai
nilai-nilai dan keyakinan yang mengedepankan liberty atau kebebasan
dalam hidup dan berekspresi. Oleh karenanya Autumn bingung saat Ben berusaha
menyatakan rasa suka dan tertariknya untuk hubungan yang lebih serius kepada
Autumn. Sedangkan di sisi lain, Ben dan Sasha sebenarnya cocok, tetapi
diketahui lebih lanjut, Sasha mempunyai orientasi seksual yang berlainan dengan
orang-orang normal pada umumnya. Sehingga Ben dan Sasha tidak bisa berjalan dan
saling memahami satu sama lain karena perbedaan nilai-nilai terhadap ekspresi
cinta dan keyakinan mereka masing-masing.
Bagaimana solusi dari tantangan dan hambatan-hambatan
tersebut? Karena itulah untuk mencapai komunikasi lintas budaya yang benar -
benar efektif ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1.
Menghormati anggota budaya lain sebagai
manusia;
2.
Menghormati budaya lain sebagaimana apa
adanya dan bukan sebagaimana yang dikehendaki;
3.
Menghormati hak anggota budaya lain untuk
bertindak berbeda dari cara bertindak; dan
4. Komunikator lintas budaya yang kompeten
harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya lain.[3]
[1] Stephen
P. Robbins. (2010). Organizational
Behavior. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Hal. 53.
[2] Dewa Putu Wijana. (1996). “Dasar-dasar Pragmatik”. Yogyakarta:
ANDI: 2.
[3] Schramm,
Wilbur. (2001). Perihal Membangun Jembatan, Dalam: Komunikasi Antarbudaya,
Panduan Berkomunikasi Dengan Orang - Orang
Berbeda Budaya. Editor: Deddy Mulyana dan Jalalluddin Rakmat. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
*****
PENUTUP
Kesimpulan
Setelah menganalisis dari sisi wacana, pragmatik dan kronologis visual perihal komunikasi lintas budaya dalam film Shortcomings yang rilis tahun 2023, setiap karakter mempunyai fungsinya masing-masing. Karakter - karakter di sini membuat cerita menjadi satu kesatuan yang berkesinambungan. Setting tempat film ini bertempat di Berkeley, California dan New York - Amerika Serikat, dengan konflik dan pengadeganan tentang Ben (orang Asia/Jepang) dalam kegiatan kerja dan kesehariannya di lingkungan negara Amerika Serikat.
- Pada film Shortcomings, alur cerita/plot berawal dari Ben (orang Asia) dan orang-orang (Amerika) yang dia ketemui di dalam keseharian dan pekerjaannya di Berkley, California, Amerika Serikat. Sudut pandang (point of view) pada film ini menggunakan sudut pandang orang pertama, menceritakan apa yang dirasakan dan apa yang dilalui oleh Ben Tanaka, tokoh utama di film ini;
- Secara Analisis Wacana dan Pragmatik, terdapat kesalahpahaman makna dan perspektif di dalam film terutama saat dialog interkasi komunikasi antara Ben dan orang Amerika. Bagaimana cara Ben mengekspresikan apa yang hendak dia maksud sampai dengan sikap marahnya yang berbeda dengan sudut pandang orang Amerika. Lalu, cara bercanda antara Ben selaku pendatang dari Asia dan orang lain yang merupakan penduduk asli;
- Berdasarkan konsep komunikasi lintas budaya yang telah peneliti pilih, ada 3 konsep, yakni konflik, mindfulness, dan stereotip;
- Konflik percintaan dan obrolan antara satu orang dengan orang yang baru lainnya adalah yang paling utama di film ini, konflik batin antara tokoh utama dan pendukung pun menjadi bumbu dalam film ini;
- Mindfulness. Banyak terjalin komunikasi yang meminimalkan kesalahpahaman budaya. Komunikasi yang saling mengerti budaya satu sama lain, cara berfikir budaya lain. Hal ini bisa direalisasikan saat Ben dalam proses komunikasi mencoba menjelaskan secara verbal dan jelas terkait apa yang dia suka atau tidak suka. Diiringi dengan lawan bicara lain yang mencoba memahami Ben, sehingga dapat terjadi akhir percakapan yang searah dan satu persepsi makna yang sama;
- Stereotip yang terjadi pada film ini, terlihat pada pelabelan Ben sebagai orang Asia yang mempunyai kultur berbeda dengan Amerika Serikat.
Lebih
jauh, kegagalan pragmatik dalam film ini terjadi dikarenakan perbedaaan latar
belakang budaya sehingga mudah menimbulkan kesalahpahaman dalam menangkap arti
makna yang sebenarnya.
________________________
Paper ini adalah tugas mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya - Semester VIII.
Dosen Pembimbing : Elpa Hermawan
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Kampus : Universitas Bina Sarana Informatika
DAFTAR PUSTAKA
Fahri,
Muhammad. (2007). The Reference Words in the Articles of the Jakarta Post:
1.
Gründler,
K., & Köllner, S. (2020). Culture, diversity, and the welfare state.
Journal of Comparative Economics, 48(4), 913–932. https://doi.org/10.1016/j.jce.2020.
05.003.
Patel, F.,
Li, M., & Sooknanan, P. (2011). Intercultural communication: Building a
global community. In Intercultural Communication: Building a Global Community
(Issue April). https://doi.org/10.4135/9781446270318.
Pratista, Himawan. (2017). The FIVE
C'S Cinematograph, Motion Picture Filming. Techniques
Simplified. Jakarta: Fakultas Film dan Televisi IKJ.
Robbins, Stephen P., & Judge, Timothy A.
(2008). Perilaku Organisasi buku 1 edisi
ke-12. Jakarta: Salemba Empat.
Schramm,
Wilbur. (2001). Perihal Membangun Jembatan, Dalam: Komunikasi Antarbudaya,
Panduan Berkomunikasi Dengan Orang -
Orang Berbeda Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Shortcoming film.
(2023). Directed and Producer by Randall Park.
Stephen
P. Robbins. (2010). Organizational
Behavior. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Hal. 53.
Wijana,
Dewa Putu. (1996). Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI.
[1] Muhammad Fahri.
(2007). “The Reference Words in the Articles of the Jakarta Post,”: 1.
[2] Gründler, K., &
Köllner, S. (2020). Culture, diversity, and the welfare state. Journal of
Comparative Economics, 48(4), 913–932.
https://doi.org/10.1016/j.jce.2020.05.003.
[3] Patel, F., Li, M.,
& Sooknanan, P. (2011). Intercultural communication: Building a global
community. In Intercultural Communication: Building a Global Community (Issue
April). https://doi.org/10.4135/9781446270318
[4] Stephen
P. Robbins. (2010). Organizational
Behavior. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Hal. 53.
[5] Dewa Putu Wijana. (1996). “Dasar-dasar Pragmatik”. Yogyakarta:
ANDI: 2.
[6] Schramm,
Wilbur. (2001). Perihal Membangun Jembatan, Dalam: Komunikasi Antarbudaya,
Panduan Berkomunikasi Dengan Orang - Orang
Berbeda Budaya. Editor: Deddy Mulyana dan Jalalluddin Rakmat. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Komentar
Posting Komentar